Sabtu, 29 Desember 2012

Lelucon Cinta part 2

Yang baru baca TABUNG ini, baca yang part 1 nya dulu ya ;) karena kalo langsung sini ga seru hahaha


27 Maret 2012

Berbagai referensi sedang ditelusuri oleh kelompok karya tulis Faya. Mulai dari buku ensiklopedia, karya tulis yang telah dibuat oleh para seniornya sampai browsing di internet. Terlihat Erlan yang sedang berkutat dengan notebook-nya, sedangkan Yasha mulai mengetik hasil pencariannya dari ensiklopedia. Rizal dan Merry izin tidak bisa ikut kerja kelompok hari ini. Alasan Rizal sih karena ia ada urusan OSIS yang tidak bisa ditunda. Maklum, dia adalah ketua OSIS yang baru. Kalau alasan Merry adalah ia harus pulang cepat karena ada keperluan dengan keluarganya, entah itu apa. Walaupun begitu Yasha, Erlan dan Faya tidak percaya, karena tadi terlihat Merry pergi bersama teman-temannya ke arah yang berlawanan dari rumahnya.
      Dan anggota terakhir baru saja datang. Tidak lupa dia menggendong gitar yang tak pernah lepas dari punggungnya, kecuali saat belajar di kelas, mandi dan tidur. Dengan bersiul santai, dia langsung bergabung dan sok ingin membantu Erlan mencari bahan karya tulis. Nggak lupa mengomentari hasil pencarian Erlan. Seketika Erlan langsng melirik sinis padanya namun dia terlanjur beranjak ke sebelah Yasha. “Duh, lo tuh kemana aja sih! Udah nggak bilang kemana lagi!”, omel Yasha sambil menyalin sesuatu dari buku ke notebook-nya. “Nggak usah ngomel dulu, Sha.. Gue cukup peka kok buat bantuin lo ngetik ini hehehe,” bela cowok itu yang langsung menggeser notebook Yasha ke hadapannya.
      Faya meliriknya sedikit-sedikit dari balik bukunya. Oke, sebenarnya ‘sedikit-sedikit’nya itu lama-lama menjadi banyak. Emang cuma Farres deh yang bisa membuat Yasha berhenti ngomel, batinnya. Ia pun kembali serius mencari bahan untuk karya tulisnya.
      Hari pun semakin sore. Tiba-tiba gerimis pun turun dan semakin lama semakin deras, namun tanpa angin kencang. “Gue keluar sebentar ya, coy. Mau ngadem,” kata Faya tiba-tiba.. Setelah mendapat anggukan persetujuan dari Yasha dan Erlan, ia keluar kelas dan bersandar pada dinding pembatas. Hujan memang menenangkan, batin Faya sambil memejamkan mata. Membayangkan seluruh masalahnya luntur terguyur hujan sungguh sangat menyejukkan. Sekilas bayangan tentang Nando berkelibat. Suatu malam di rumah Faya, Nando pernah mengatakan jika hujan dapat menghantarkan ‘pesan rindu’ kita pada orang yang kita rindu. Entah siapa kali ini yang ingin kukirimi ‘pesan rindu’, Faya memikirkannya. Wajah Nando terbayang di benak Faya. Indah memang mengingatnya ketika bersama Nando. Namun tiba-tiba wajah Riris muncul Faya pun teringat pada cerita Tissa tempo hari. Faya tetap belum bisa menyimpulkan kehendak Nando. Mungkin Tissa akan lebih mengerti... Tissa, sahabatnya dan kekasih Farres. Seketika kelibatan kenangan tentang Farres tadi siang berputar pelan di kepalanya. Sikapnya.. .Matanya... Suaranya...
      “Fay, kok lo aneh sih merem-merem alay sambil ngulurin tangan gitu? Mau jadi pengemis hujan lo? Apa pengemis cinta? Ahahaha,” ledek Farres diiringi tawanya yang meledek. Dia membawa sebuah bangku keluar kelas. “Yeuuu emang gue mau ngemis ke siapa coba! Ada juga cowok pada ngantri ngemis cinta gue!”, sahut Faya membela diri sambil tertawa. Farres bergaya pura-pura muntah dan akhirnya ikut tertawa. Tertawa lepas bersama diiringi hujan.
“Kok lo bawanya cuma satu sih, Res? Nggak peka deh jadi cowok. Kan gue juga capek,” keluh Faya pada Farres yang malah sudah duduk dan mulai memetik gitarnya. “Karena gue mau main gitar buat ngiringin lo nyanyi. Nyanyi enakkan berdiri kan?”, kata Farres ngeles seenaknya. Belum sempat Faya protes, alunan lagu berjudul Orang Ketiga milik band Hivi! terdengar lembut dari alat musik berwarna cokelat tersebut.

Saat berjumpa dan kau menyapa
Indah parasmu hangatkan suasana
Buatku tak percaya
Mimpi indahku jadi nyata

Nada-nada yang dimainkan Farres tidak jauh berbeda dengan band aslinya. Perbedaanya adalah bahwa Farres bukan artis, Farres cuma sendiri dan yang memainkan adalah Farres. Permainannya begitu lembut, mengalir dan membuat tenang orang yang mendengarnya. Faya terhanyut dalam buaian irama yang bercampur lirirk-lirik penuh makna. Bayangan yang pertama memenuhi pikirannya, entah kenapa adalah Nando.

Saat sendiri jalani hari
Bayang-bayangmu selalu menghampiri
Dan akupun mengerti
Apa maunya hati ini

Faya mendengarkan dengan penuh penghayatan. Matanya memandang jauh ke langit yang kini berwarna putih mendung. Namun jiwanya mengingat masa lalu dan membuatnya merindukan seseorang. Seseorang yang menjadi bayangan di pikirannya. Tak sadar mulutnya bergerak melantunkan lirik-liriknya.

Namun tiba-tiba kau ada yang punya
Hati ini terluka
Sungguh ku kecewa
Ingin ku berkata

Tiba-tiba suara Farres terdengar mengikuti. Sebelumnya ia tidak pernah mau bernyanyi. Faya langsung menengok terkejut ke arahnya dengan senyuman cerah. Ia ingin tertawa, tetapi tidak ingin mengganggu momen bahagia yang langka ini.

Kasih maaf bila aku jatuh cinta
Maaf bila saja ku suka
Saat kau ada yang punya

 Suasana telah berubah menjadi hangat. Farres tak dapat berhenti tersenyum sambil terus memainkan gitarnya dan berduet dengan Faya. Suaranya yang bass mampu mengimbangi suara tinggi Faya.
Faya terus bernyanyi dan tanpa sadar ia juga menatap Farres dalam. Sirat mata keduanya seolah menyiratkan sesuatu yang tak bisa diungkapkan secara lisan.

Haruskah ku pendam rasa ini saja
Ataukah ku teruskan saja
Hingga kau meninggalkannya
Dan kita bersama

Senyum mereka lambat laun mulai pudar ketika sampai di ujung lagu. Perasaan mereka yang telah terbawa jauh oleh suasana, tiba-tiba membuat pikiran ragu. Dan tersadar akan makna lirik lagu tersebut. Hening menguasai suasana tanpa menghalangi keempat mata yang saling mencari jawaban akan sebuah pertanyaan.
Jelas raut wajah Farres yang terlihat bingung, ingin marah sekaligus senang, menjelaskan kegundahan perasaannya. Ekspresi Faya lebih terlihat kecewa dan sedih namun tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Pikiran masing-masing terbang ke momen terakhir yang baru terjadi dan mencoba mendeskripsikan perasaan yang hadir. Mereka berdua terdiam dalam waktu lama dan saling bertatapan. Walau anehnya terasa benar.
Brak!  Terdengar suara pintu terbanting oleh seseorang. Faya yang spontan menengok melihat sekilas dengan jelas ekspresi kekecewaannya. Tatapan kecewa dari seseorang yang sempat menjadi bayangan pikiran Faya. Nando pergi dengan marah.
***
      Dengan langkah gontai Faya langsung menuju ke kamarnya sepulang sekolah. Tanpa melepas seragamnya, ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Kepalanya mulai penat dengan berbagai pikiran. Ia bingung dengan ekspresi Nando. Dia mungkin cemburu dan itu wajar karena ia memang sedang dekat dengan Faya. Namun Faya menjadi bertanya-tanya, apakah sebegitu besar rasa sayang yang dimiliki Nando untuknya? Sedikit rasa senang mulai menyelimuti hati Faya.
      Akan tetapi yang lebih membuat Faya bingung adalah perasaannya pada Farres. Tidak pernah sekalipun ia memikirkan perasaannya terhadap Farres. Menurutnya Farres hanyalah seorang teman. Temannya saat belajar, saat menemukan hal baru, saat bersantai,  saat saling membutuhkan, saat salah satu atau keduamya sedih, atau saat mereka bahagia. Sebentar... Kenapa Farres tampaknya hadir setiap saat di samping Faya? Perlahan-lahan senyuman terlukis di wajah manis Faya. Ia baru sadar bahwa dirinya telah terbiasa dengan Farres. Mungkin selama ini tampak Farres yang membutuhkannya, namun tanpa sadar Faya lah yang membutuhkan Farres. Butuh nasehatnya, butuh penghiburannya, butuh ide cemerlangnya dan butuh canda tawanya.
      Perasaan bersalah pun muncul di hati Faya. Ia ingat pada sosok Tissa, teman baik sekaligus pacar Farres. Mengingat baru saja memikrkan Farres sedemikian rupa, Faya merasa telah mengkhianati temannya. Faya tak akan tega menusuk Tissa dari belakang, karena membayangkannya saja sudah cukup sakit. Dan ia pun ingat pada Nando. Seseorang yang terlihat cemburu melihat momen terakhirnya dengan Farres. Seperti telah lama memendam kecemburuan itu. Faya sudah mencoba menghubunginya lewat telepon, namun jika tidak dimatikan, ya diabaikan saja. Begitu juga dengan SMS atau jejaring sosial. Mulai bertanya kabarnya sampai meminta maaf atas kesalahan Faya yang belum tentu benar. Dan semuanya tidak ada balasan.
Rindu pada kebersamaannya dengan Nando muncul. Matanya, suaranya, senyumnya, tawanya dan perasaannya. Mengingat itu semua membuat hati Faya berdesir senang. Pipinya mulai merona hanya karena membayangkan wajah Nando. Namun tiba-tiba wajah Farres terbentuk di pikiran Faya. Ia tidak tahu apa jenis perasaannya terhadap Farres. Dan Ia tidak tahu bahwa beberapa blok dari rumahnya, seorang pria sedang merasakan hal yang sama.
***
      30 Maret 2012
      “Maaf ya Fay gue kemarin kelepasan. Gue sebenarnya iri sama kedekatan dan persahabatan kalian. Kalian ketawa bareng, nyanyi bareng, ngerjain tugas bareng, semuanya bareng,” aku Nando pada Faya. Bel istirahat kedua baru saja dibunyikan lima menit yang lalu dan Nando langsung menarik tangan Faya untuk keluar kelas.
      Sambil berjalan menuju masjid untuk sholat Dzuhur, Nando memaparkan seluruh perasaannya. Awalnya dia hanya menjelaskan kejadian ‘membanting’ pintu kemarin. Faya hanya senyam-senyum menanggapi. Dugaan tentang Nando yang cemburu mungkin benar.
      Dan ia senang bisa mengetahui hal itu. Sampai senyumnya memudar perlahan, berganti dengan ekspresi bingung pada sebuah pertanyaan.
      “Perasaan lo ke Farres tuh kayak apa sih, Fay?”, tanya Nando tiba-tiba. Wajah Faya langsung menegang. Ia kebingungan bagaimana menjawab pertanyaan itu sebelum terlihat salah tingkah duluan. Bagaimana aku bisa memberitahu Nando? Aku saja tidak tahu dan tidak bisa untuk ‘memberitahu’ diriku sendiri, batin Faya kebingungan. Otaknya diputar untuk mencari jawaban yang paling aman.
      “Gue sayang sama Farres, Nan. Gue sayang dia sebagai sahabat gue dan kakak laki-laki gue. Gue daridulu nganggep dia sebagai kakak gue, karena gue nggak punya kakak cowok hehehe,” jawab Faya cengengesan. Faya tahu dia tidak bohong, tapi ia juga tahu bahwa ia tidak jujur.
      “Oooh, gue ngerti kok perasaan itu,” Nando menanggapi sambil melirik Faya sekilas.
      “Kalau lo gimana Nan? Perasaan lo ke Riris gimana?”, Faya mendapat ide untuk memutar balikkan pertanyaan Nando. Pada dasarnya Faya memang tidak begitu menyukai hubungan mereka berdua. Terlalu intim, terlalu dekat, terlalu lembut untuk hanya sekedar ‘sahabatan’. Ia pun takut gosip yang beredar itu benar, bahwa Nando menyukai Riris.
      “Gue.....gue...... Ehm, gue ngaku kalau gue dulu sempat suka sama dia,” jawab Nando sedikit menunduk. Seketika Faya langsung merasa menyesal menanyakan hal itu, karena ternyata ia belum sanggup menerima kenyataan. Tapi sebentar.... Dulu? Sempat?
      “Tapi itu kan dulu, Fay. Dulu kita emang dekat banget. Dan gue tahu kalau gue nggak ada harapan karena Riris udah jadian lama banget. Walau pada akhirnya gue selalu pengen ada di sampingnya. Sampai akhirnya gue ketemu orang itu, Fay”, Nando menjelaskan dari awal tentang dirinya saat bertemu dengan orang yang ia maksud. Wajah Faya yang sebelumnya menunduk murung, perlahan terangkat ke atas. Barisan ungkapan hati Nando mengalir dari bibirnya. Sekilas Faya menatap mata Nando, yang membuatnya hangat dan tenang namun penasaran. Dan tak jarang melihat ke arah lain karena tak bisa menahan salah tingkah dan degupan jantung. Entah kenapa Faya ‘geer’ sendiri dan berfirasat orang itu dia. Tapi Faya mulai berpikir pesimis dan merasa kecewa.
“Gue udah lupa Riris kok, Fay. Karena bantuan orang itu. Orang yang gue sayang,” Nando menyimpulkan jawabannya. Hanya saja Faya tetap ingin tahu siapa orang itu.
      Mereka telah sampai di depan tangga menuju masjid. Keheningan menguasai ketika mereka membuka sepatu. Nando selesai sedikit lebih cepat dibanding Faya dan berjalan menaiki tangga lebih awal. Faya mengikuti dibelakangnya. Tiba-tiba Nando menengok ke belakang dan melemparkan senyuman manisnya. Walau terasa sedikit kecewa, namun senyuman itu membuat Faya bisa membatin senang. Ah indahnya hari ini!
***
      Sekolah telah sepi. Hanya tampak beberapa murid di kelas-kelas XII yang sedang mengerjakan tugas kelompok. Semilir angin meniup rambut Faya yang sedang bersandar di tembok pembatas. Di kelas hanya ada Yasha, Farres, Tissa dan Nando. Mereka sedang asyik bermain kartu UNO. Faya sudah memenangkan permainan itu berkali-kali. Sambil menunggu permainan baru selanjutnya, ia menunggu di luar. Senang rasanya mendengar tawa mereka. Ia kembali menatap langit mendung. Wajah sahabat-sahabatnya terbayang diatas sana. “Gue sayang kalian,” ungkap Faya tanpa sadar.
      “Sayang sama siapa Fay? Gue?”, celetuk Nando yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Rambut tebalnya menari-nari tertiup angin. Wajah tampannya bersemu merah.
      “Yeeee, geer lo, Nan!”, kata Faya sambil memukul punggung Nando. Nando pun mengusapnya pura-pura kesakitan.
      “Udah selesai mainnya, Nan?”, tanya Faya sambil melihat ke arah ketiga sahabatnya. Anehnya mereka seperti baru memperhatikan mereka dan langsung melihat ke arah yang berbeda-beda sambil bersiul.
      “Gue menang duluan, walau setelah lo sih. Jadi gue kesini deh, abis nggak tega ngeliat lo bakal masuk angin sendirian!”, ledek Nando yang sukses membuat Faya menatap sinis ke arahnya. Alhasil mereka pun tertawa bersama walau sebenarnya tidak ada yang lucu. Siapa sih yang nggak senang tertawa bersama orang yang kita suka?
      “Nan, gue boleh tahu nggak siapa orang yang ngebantu lo move on dari Riris?”, tanya Faya hati-hati. Ia takut Nando marah atas keingintahuannya yang terlalu besar.
“Serius lo mau tahu?”, Nando malah bertanya balik. “Serius lah, Nan. Kali gue bercanda,” ujar Faya. “Yaudah nggak usah ‘nge-gas’ juga dong, neng hehe”, Nando cengengesan sambil mencolek pipi Faya.
      “Orang yang membantu gue untuk move on dari Riris itu...”, Nando menarik nafasnya. Entah kenapa jantung Faya mulai berdegup. Sebenarnya ia hanya mencoba siap untuk mengetahui jawabannya. Baik maupun buruk.
      “Orang itu adalah cewek yang lagi gue tatap sekarang,” kata Nando yang langsung menatap lawan bicaranya. Faya langsung menjadi salah tingkah dan sedikit tegang.
      “Orang itu lo, Faya”, Nando nyengir sambil mengacak-ngacak rambut Faya. Pemilik rambut itu spontan merapikan rambutnya, sambil mencoba menyembunyikan wajah merahnya yang tegang.
      “Serius lo?”, Faya ingin memastikan sekali lagi. “Iyalaaaah, gue suka sama lo, Fay. Dan makin lama, gue jadi sayang sama lo. Mau kan jadi pacar gue?”, Nando bertanya sambil tetap nyengir tampan walaupun wajahnya juga sedikit merah.
      Faya ingin langsung mengiyakan tawaran itu. Namun tiba-tiba ia ingat pada seseorang. Ia pun menengok ke dalam kelas dan melihat ke arah ketiga sahabatnya. Yasha dan Tissa hanya tersenyum. Faya melihat Farres memberi anggukan. Seketika Faya mengiyakan pertanyaan Nando. Dan keduanya saling tertawa malu diiringi tangan Nando yang mulai mengacak rambut Faya.
      Farres, Yasha dan Tissa keluar dari kelasnya dengan wajah cerah. Mereka semua menyalami Nando dan Faya seperti layaknya pengantin. Senyum tulus terpancar dari wajah mereka. Saat tiba giliran Farres menyalami Faya, senyuman tulus terlukis di wajah Farres. Namun tampak tatapan yang hanya mereka berdua mengerti artinya. Tatapan yang berarti tak rela dan tak ada lagi harapan.
***